Kemegahan Masjid Raya Al Furqan Di Kepulauan Nias

Masjid Raya Al-Furqon, di samping gedung DPRD Kota Gunungsitoli, rata dengan tanah saat gempa melanda Pulau Nias pada 28 Oktober 2005. Empat tahun kemudian, 8 Agustus 2009, peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid itu dilakukan Bupati Nias Binahati B Baeha.

Baru berjalan sebentar, proyek Rp 3,4 miliar itu kehabisan dana. Pada 8 November 2014, masjid ini ‘dijual’ oleh Ustadz Yusman Dawolo, pemuda Nias yang jadi bos jaringan klinik ‘Pusat Bekam Ruqyah’ di Jabotabek. Pembangunan pun bisa berlanjut. Akhirnya, 22 November 2016, Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi meresmikannya.

Kemegahan Masjid Raya Al Furqan Di Kepulauan Nias

Perjalanan pembangunan kembali Masjid Raya Al-Furqon, yang dulu sering disebut ‘Masjid Pasar’ karena lokasinya dekat pasar, memang panjang: 11 tahun. Pasca gempa, masyarakat Muslim Nias hanya bisa memperbaiki masjid itu secara darurat.

Tapi, upaya mencari dukungan juga terus dilakukan. Sekitar Agustus 2006, sejumlah tokoh berdarah Nias yang tinggal di Jakarta meninjau sang masjid. Termasuk di antaranya Muhammad Yusuf Sisus, 

Direktur Utama Dana Pensiun Karyawan Jamsostek. Meski pun orang Nias, sosok yang satu ini lahir di Padang, Sumatera Barat.

Keluarganya berasal dari Desa Sogaeadu, Kecamatan Gido, Nias, Kabupaten Nias. Lahir 11 Oktober 1952, dengan nama Sisus, pria ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada 31 Desember 1964, saat kelas 6 SD.

Sisus, sebagaimana keluarga besar Niasnya, semula penganut animisme. ”Keluarga saya, termasuk saya sendiri, adalah penganut agama pelbegu (animis) yang menyembah berhala,” kata Muhammad Yusuf Sisus, dalam perbicangan dengan Republika pada Ramadhan 2017 ini. Tentang nama aslinya, ia bilang memang hanya satu kata: Sisus. Tapi, komisaris biro haji dan umroh PT As-Salam Mulya Al-Haromain ini juga punya nama animsme: Haogododo Lombu, atau ‘Hati Yang Baik’.

Nama satu kata tadi tertera di ijazahnya semasa Sekolah Rakyat dan PGAN. Ia kemudian mengurus pergantian nama menjadi Muhammad Yusuf Sisus ke Departemen Kehakiman. Walhasil, ijazah sarjana muda, S1, dan S2-nya sudah memakai nama Islam.

Sepulang dari kunjungan ke Nias, pada 6 Oktober 2006, masyarakat Muslim nias di Jakarta sepakat membentuk Yayasan Peduli Muslim Nias, dengan Sisus sebagai ketuanya.

Yayasan ini dibentuk untuk menggalang dana bagi pembangunan kembali berbagai masjid dan mushola di Nias. Alias tidak hanya berfokus pada Masjid Al-Furqon. Dalam perjalanannya, karena terlalu banyak masjid dan mushola yang harus dibantu, hasil penggalangan dana untuk Masjid Al-Furqon jadi tak optimal.

”Sampai akhir tahun 2008, uang yang khusus untuk Masjid Al-Furqan baru terkumpul sekitar Rp 300 juta,” papar Sisus, di blog pribadinya Yusuf-Sisus.com, yang banyak mendokumentasikan perjalanan pembangunan Masjid Raya Al-Furqon. Solusi lain pun dicari. Maka, mulai Januari 2009, Yayasan Peduli Muslim Nias bersinergi dengan Al-Azhar Peduli Ummat, lembaga amal bentukan Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, untuk menggenjot upaya penggalangan dana.

Berkat sinergi itu, pembangunan kembali Masjid Raya Al-Furqon akhirnya bisa dimulai. Bupati Nias Binahati B Baeha dan Afif Hamka dari Al-Azhar Peduli Ummat meletakkan batu pertama pembangunannya pada 8 Agustus 2009. Dana yang terkumpul saat itu, menurut catatan Situs di akun Facebook-nya, mencapai Rp 1,2 miliar.

Rinciannya: Al-Azhar Peduli Ummat Rp 500 juta; Panitia Pembangunan Masjid Rp 300 juta lebih; Yayasan Peduli Muslim Nias Rp 150 juta, dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias Rp 250 juta. Adapun biaya yang dibutuhkan untuk membangun Masjid Al-Furqon versi baru itu sebesar Rp 3,4 miliar.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>